...

=== SELAMAT DATANG = = = SELAMAT DATANG= = = SELAMAT DATANG = = = SELAMAT DATANG = = =
= = =DI BLOG SAYA: GOMGOM PASARIBU= = =
Free banner maker
Generated image
Generated image
Tampilkan postingan dengan label =BUDAYA BATAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label =BUDAYA BATAK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2011

PASARIBU: MENURUT PPDB JABOTABEK (JHON B. PASARIBU, 1993)

PASARIBU: MENURUT PPDB JABOTABEK (JHON B. PASARIBU, 1993)

Buku kecil itu memuat memori kepengurusan Pasaribu, Masa Bhakti 1993 – 1995 yang di pimpin oleh Drs. John Bidel Pasaribu. Walaupun Buku itu merupakan memori tetapi didalamnya memuat banyak informasi menarik termasuk hal-hal yang perlu dikritisi terutama menyangkut Pasaribu. Pengurus Parsadaan Pasaribu dan Boru (PPDB) Jabotabek pada halaman 61 menulis begini : “Tarombo Ni Sariburaja III Pasaribu Na Tolu Sabutuha”. Maka pada halaman 63 disajikan silsilah Sariburaja III begini: Sariburaja III punya 3 orang isteri, 1) Boru jau, 2) Boru Pareme 3) Boru Babiat. Dari Boru Jau lahir Siraja Iborboron, dari Boru Pareme Lahir Siraja Lontung, dari Boru Babiat Lahir Raja Galeman. Mungkin yang dimaksud dengan halaman 63 itu adalah Sariburaja I, bukan Sariburaja III, karena pada halaman 62 di tulis “Boi dope dohonon tahe, ia na mamboanhon marga Pasaribu, tarlumobima, dung di ari na parpudi on, hira pomparan ni Sariburaja III nama, atik pe boi dijalo roha na tong-tong do adong hak ni angka pomparan ni Sariburaja I dohot Sariburaja II mamahe marga Pasaribu”. Maksudnya begini: Boleh dikatakan bahwa yang membawa marga Pasaribu, khususnya akhir-akhir ini, hampir turunan dari Sariburaja III saja, namun demikian harus diakui turunan Sariburaja I punya hak menggunakan marga Pasaribu. Kita garisbawahi kalimat, boleh dikatakan bahwa yang membawakan marga Pasaribu, khususnya akhir-akhir ini hampir turunan dari Sariburaja III saja, kalimat ini kalimat karet, yakni kalimat yang tidak dapat dijadikan pegangan karena mempunyai arti yang tidak pasti. Kalimat yang benar adalah : Harus dikatakan bahwa yang membawakan marga Pasaribu, bukan turunan dari Sariburaja III saja, tetapi mencakup semua marga-marga dibawah Borbor, bahkan juga dalam lingkup yang lebih luas yakni Borbor bersama Limbong, Sagala, dan Malau. Lagipula, menggunakan kriteria apa sehingga hanya turunan Sariburaja III saja yang membawakan Marga Pasaribu(?)

Masih menurut PPDB Jabotabek dalam “Buku Bolon 1988”, pinatomu-tomu ni amanta Drs. John B. Pasaribu pada halaman 24 menulis sebagai berikut: “Marga Borbor, yang kemudian berobah menjadi Borbor Marsada bersama-sama dengan marga Sagala, Limbong dan Malau, mereka bersatu untuk melawan marga Lontung”.(Tidak ada marga Borbor,yang ada marga-marga Borbor) Tidak dijelaskan alasan mengapa Borbor Marsada melawan marga Lontung. Kalau alasannya karena Lontung lahir sebagai buah dari incest orangtuanya yang sekandung, perlawanan Borbor Marsada terhadap Lontung benar-benar tidak adil. Lontung tidak melakukan kesalahan sekecil apapun terhadap Borbor, Limbong, Sagala maupun terhadap Malau. Lontung lahir bukan atas kemauannya sendiri dan tidak punya urusan terhadap apa saja yang dilakukan oleh Sariburaja dengan Boru Pareme sehingga Lontung ada dalam kandungan ‘namboru-nya’ yang juga adalah ibu kandungnya. Bahwa Borbor Marsada dibentuk untuk melawan Lontung pastilah merupakan gerakan permusuhan yang tidak layak karena itu Borbor Marsada versi seperti itu harus ditolak. Dalam buku stensilan ini (Pasaribu : menurut PPDB Jabotabek), pada halaman 30 ditulis dengan *). Dalam silsilah Raja Habeahan dikemudian hari ada anaknya bernama Raja Manuksuk atau Saruksuk ….., pada generasi ke-XII. Seharusnya Saudara John B. Pasaribu menyebutkan sumber yang jelas dari mana dikutip bahwa: “Raja Manuksuk = Saruksuk”(?). Raja Manuksuk = Ompu ni Urat Habeahan datang ke Rabaraba dan menetap di sana (TRU Saruksuk, Pasaribu, hal 121).
Kesimpulan :
Pertama : Sariburaja I = Pasaribu
Kedua : Menempatkan Saruksuk = Manuksuk dalam silsilah Habeahan harus ditolak.

Kamis, 16 Juni 2011

PASARIBU DAN SARUKSUK” : HASIL DIALOG NASIONAL 24 Oktober 1988

PASARIBU DAN SARUKSUK” : HASIL DIALOG NASIONAL 24 Oktober 1988


Pengalaman silsilah (tarombo) didefenisikan sebagai pencarian realitas asali. Dan dalam rangka pencarian ini, penyilsilah sering merasa terdorong untuk menegaskan bahwa silsilah yang dimiliki sebagai paling otentik dan karenanya harus dianggap paling sah. Banyak diantara mereka memperlihatkan kecenderungan terselubung untuk menyatakan diri sebagai yang paling benar, lalu menawarkan silsilah yang dia miliki sebagai satu-satunya pilihan menuju kepastian posisi dalam silsilah. Sikap seperti ini kiranya bertengah dengan, apabila, menerima setiap ungkapan mengenai realitas asali yang, lain dari pada ungkapan sendiri. Suatu kenyataan dan mengaburkan susunan keluarga Batak dewasa ini ialah adanya berbagai ragam dan versi silsilah beredar dan dimiliki masing-masing sebagai satu-satunya kebenaran.

Dalam komunitas Pasaribu Saruksuk pun pernah terjadi hal serupa, terutama tahun 1965, yakni, sejak munculnya satu versi silsilah berjudul Tarombo Pasaribu Habeahan di Medan. Dalam silsilah versi itu posisi Raja Saruksuk ditempatkan mengisi posisi Raja Manuksuk pada silsilah Pasaribu Habeahan. Silsilah rekayasa ini kemudian diseremonialminikan oleh St. Rellius Saruksuk Gg. Halat, di Medan. Mulai saat itu disitu dan di Jakarta Pusat yang disponsori oleh Rafidin Pasaribu Saruksuk BA posisi Saruksuk dalam komunitas Pasaribu menjadi gamang. Sebelumnya di Tapanuli Tengah Saruksuk merupakan si bungsu dari empat bersaudara, Habeahan, Bondar, Gorat dan Saruksuk di tetapi sejak munculnya posisi Saruksuk mengisi Manuksuk, sub unit Saruksuk jadi hilang dan tampil dalam posisi baru yakni Habeahan, yang tadinya Saruksuk anak bungsu berubah menjadi anak sulung. Perubahan posisi ini menimbulkan masalah besar di kalangan Pasaribu khususnya di Pasaribu Tobing dan Pasaribu Dolok, Tapanuli Tengah tempat Raja-Raja Saruksuk membangun “tahta “(huta) yakni di Rabaraba, Lobu Sampetua, Tarutung Siduadua, Jampalan Bidang, Lobu Siala, Sarumatinggi, Siangirangir, Sibatunanggar, Janji Nauli, Bonandolok, Sirau, Panorusan, Longgang, Tomaginjang I, Tomaginjang II, Lumbang Baringin, Batu Ronggang, Rianiate, Sidimpuan, Sibatubatu, Pansuran Dewa dan Aek Rogas. Untuk mengatasi masalah ini komunitas Saruksuk menggagas suatu pertemuan yang luas dan mencakup keseluruhan keluarga-keluarga Saruksuk. Pertemuan ini disebut Dialog Nasional, 23-24 Oktober 1988, di Sirau, Kecamatan Sorkam, Tapanuli Tengah. Turut diundang dan hadir disitu pengurus Pasaribu Kota Medan, dan tokoh-tokoh unit marga Pasaribu dalam lingkup Borbor, Tapanuli Tengah. Ada tiga hal yang dituntaskan dalam forum itu yakni, 1). Orang pertama yang menyandang “Pasaribu”. 2). Posisi Saruksuk dalam silsilah Batak. 3). Silsilah turunan (Pomparan) Saruksuk.

Selama dua hari pertemuan berdialog itu, memasuki hari kedua yang semula diperkirakan berjalan alot dan banyak debat ternyata berjalan sangat mulus. Para peserta dialog sangat lega karena semua undangan di luar Saruksuk memiliki informasi tentang Pasaribu sama dengan yang diketahui Saruksuk selama ini. Karena itulah secara amat mudah keputusan dapat dicapai sebagai berikut :

Pertama : Sariburaja I yakni putera ke-dua Guru Tatea Bulan, sesudah Raja Uti, adalah orang pertama penyandang Pasaribu, yakni nama dan martabat (sangap) keluarga Guru Tatea Bulan yang harus dipelihara terus-menerus oleh seluruh turunan dari ibu Nai Margiring Laut, first lady dari Sariburaja I sejak dari Borbor selaku “Putera Mahkota”.

Kedua : Saruksuk berada pada posisi putera ke-empat dari Datu Dalu / Sangmaima sesudah Habeahan, Bondar dan Gorat. Saruksuk terkenal sebagai erha karena dalam episode persaingan menghadapi ketangguhan Datu Pulungan Tua, Datu Dalu menjadikan Saruksuk menjadi erha untuk memenangkan pertarungan itu dengan cara diplomasi dan berhasil sukses untuk kemenangan Datu Dalu.

Ketiga : Sejak Dialog Nasional itu, silsilah Pasaribu Saruksuk sudah final dan ditandatangani oleh masing-masing rumpun (ompu) tanggal 24 Oktober 1988. Hasil Dialog Nasional itu telah dibukukan dengan judul “Pasaribu Saruksuk” memuat resensi, dari majalah BONANIPINASA, dan sambutan dari Ketua Umum Parsadaan Pasaribu dan Boru-Berena, Bandung, Cimahi, J. Pasaribu (Bondar) memuji, terutama dari segi proses, prosedur dan tata tertib Dialog Nasional karena, “Hasil yang baik diperoleh melalui cara yang baik”.

Senin, 01 November 2010

UMPASA BATAK

UMPASA BATAK

UMPASA BATAK

Didalam kehidupan orang batak sangat di junjung tinggi adat istiadat sampai bertutur kata pun menjadi dasar berkomunikasi. Bukan suatu hal baru mengenai tutur kata baik saat di gunakan pada acara adat resmi, Martupol hingga Pernikahan maupun acara yang lainnya. Saya ingin membagi ucapan tutur orang batak di dalam bahasa Umpama dan Umpasa batak. Yang pernah saya dengar maupun yang saya baca:

Umpama adalah Bahasa batak yang berbentuk pribahasa atau pepatah yang mengandung norma atau sanksi pada hal hal bermaksud larangan atau dalam bahasa batak adalah “PANTANG”.
Sebagai contoh tutur kata yang sering di gunakan dalam acara adat resmi.
1. Langkitang gabe hapur, Na hinilang gabe mambur.
Artinya: Hasil yang diperoleh dari tipuan akan hilang suatu saat.
2. Jolo ni dilat bibir, asa ni dok hata.
Artinya: Sebelum anda berbicara, sebaiknya di pikirkan dahulu.
3. Marluga sitindaon mangalaosi sigapiton. Tu jolo nilangkahon tu pudi sinarihon.
Artinya: Dengan pasti melangkah ke depan, sebaiknya perhatikan juga kebelakang.
4. Niarit tarugi pora-pora. Molo tinean uli Teanon dohot gora.
Artinya: Jika kamu mengharapkan warisan dalam keuntungan, Harus juga menerima kerugiannya.
5. Hata mamunjung hata lalean, hata torop sabungan ni hata.
Artinya: Pendapat sendiri saja adalah pendapat gila. Musyawarah untuk mupakat adalah pendapat yang dewasa.
6. Jabut ni jagung tu si marhalosi. Na ripe manjalo, So olo mamalosi.
Artinya: Janganlah hanya menerima saja tapi tidak mau memberi.

Umpasa adalah Bahasa batak yang berbentuk pribahasa atau pepatah yang mengandung makna izin atau doa restu.
Sebagai contoh turur kata yang sering di gunakan dalam acara adat resmi.
1. Andor hadukka togu-togu ni lombu. Sai sahat hamu saurmatua, togu-toguon ni pahompu
Artinya: Semoga anda beranak cucu dan panjang umur sehingga cucumu dapat manjaga/merawatmu kembali.
2. Bintang na rumiris ombun na sumorop. Sai tubu dihamu anak na riris, boru pe antong torop.
Artinya: Semoga kamu memperoleh banyak anak laki-laki dan anak perempuan seperti bintang dilangit dan seperti embun.
3. Tumbur ni pangkat tu tumbur ni hotang. Tusi hamu mangalangka tusi dapoton pangamoan.
Artinya: Kemana pun anda melangkahkan kaki semoga berkat selalu mengiringimu.
4. Sai torop ma dangkana, rugun dohot bulungna. Horas jala gabe hula-hulana, songon I dohot boruna.
Artinya: Semoga hula-hula hidup bahagia begitu pula dengan borunya.
5. Simbora gukguk, di julu ni tapian. Horas jala gabe hita luhut, jala dapotan parsahulian.
Artinya: Semoga kita hidup sejatera dan mendapatkan berkat dalam kehidupan.
6. Tubu sanggar di hobuk-hobuk pinangaitaithon, di dolok ni purbatua. Sai tubu di hamu anak dohot boru unang panahitnahiton jala saurmatua.
Artinya: Semoga anda mendapatkan putri dan putra, jangan sakit-sakitan hendaknya sampai semua lanjut usia.
7. Mandurung diaek sihoru-horu,manjala diaek sigura-gura. Udur hamu leleng mangolu,sonang martua hipas so ra mahua
8. Ansimun sada holbung pege, Sangharimbang meninbung rap tu toru mengangkat rap tu ginjang.
9. Anduhur martutu di atas ni purba tua, Sai sinur ma pinahan gabe na niula.

Sampai disini dulu tulisan saya jika ada yang ingin di tambahkan maupun di ralat, silahkan. Saya tunggu, Horas ma di hita bangso batak.
By: Gomgom Pasaribu

http://gomgompasaribu.blogspot.com/2010/11/umpasa-batak.html

Sabtu, 28 Agustus 2010

BUKU SEJARAH BATAK (BATARA SANGTI, 1978).

Dalam buku Sejarah Batak karya Ompu Buntilan yang menempatkan si Raja Batak pada generasi I, Sariburaja I berada pada generasi III bersama Tuan Sorimangaraja, ternyata isteri Tuan Sorimangaraja adalah boru Pasaribu (hal.14 dan 52). Batara Sangti yang disebut juga Ompu Buntilan, pada halaman 52, mencatat begini “….yaitu dalam kisah perlawatan Tuan Sari Margaraja (TSM ) (s. ke-3 kira-kira 1365-1395) dari Baligeraja pergi ke Angkola Jae (hilir) dalam rangka mencari seekor ‘ular belang tua’ (Toba = “ulok sibaganding tua”) untuk mengambil ‘ati’ dan ‘minyak’ dari ular sebagai salah satu ramuan obat isterinya marga boru Pasaribu (Puteri keturunan Tuan Sariburaja/Sriwijaya?) bernama Nai Suanon (Ibu Tuan Sorba Dibanua) karena lama mandul (tidak beranak).

Isteri Tuan Sorba Dibanua pada generasi ke-IV juga boru Pasaribu melahirkan lima orang putera: 1. Sibagot Ni Pohan (isteri boru Pasaribu dari Tarabunga Baligeraja) 2. Sipaittua, 3. Silahi Sabungan, 4. Siraja Oloan, dan 5. Siraja Hutalima (hal. 313 dan hal. 443). Juga isteri Raja Mangarerak (Panjimeter) adalah boru Pasaribu (Noot: Ypes al. 37). Siraja Oloan generasi ke-V mempunyai isteri boru Pasaribu (Horas, 27-8-1991), dan Sejarah Batak, hal. 306. pada generasi ke-VI yakni Tuan Sihubil, isterinya boru Pasaribu. Tampubolon, putera Tuan Sihubil juga dari boru Pasaribu itu. Ibu Sisingamangaraja I (generasi ke-X) adalah boru Pasaribu dan suaminya Ompu Raja Bona ni Onan (pada generasike-IX). Dalam generasi ke-VII juga dikenal Pasaribu Nieak Ni Poring akibat ulah (hal. 470) Guru Manombabisa yang kikir. Konon, Guru Mangaloksa menyuruh isterinya Si Tumaledung boru Pasaribu menghadap Guru Manombabisa meminta sebidang tanah untuk mereka garap, tetapi Guru Manombabisa cuma mengabulkan sebungkus kecil saja tanah untuk dibawa pulang memenuhi permintaan Guru Mangaloksa. Diperlakukan seperti itu Guru Mangaloksa tentu saja tidak terima dan sejak itu mulailah timbul upaya rekayasa mengalahkan sang mertua dikampungnya sendiri yang bernama Marsaitbosi, yakni kampung marga Pasaribu secara diplomatis. Guru Mangaloksa berhasil mengusir mertuanya dari Silindung, dengan julukan Pasaribu Nieak Ni Poring.
Cerita ini mirip sekali dengan yang dituturkan dalam buku Borbor Marsada pada halaman 271 tetapi karena tidak menyebut sumber yang jelas, cerita itu termasuk dalam dongeng yang banyak mengandung bumbu yang terkadang terasa pahit. Kesimpulan :

Pertama : Pada generasi ke III Si Raja Batak sudah ada Pasaribu
Kedua : Saruksuk menempati posisi generasi ke-VIII, jadi Pasaribu Saruksuk =
Pasaribu bersama Sariburaja, Parubahaji, Matondang, Tarihoran dan
Parapat.

Rabu, 25 Agustus 2010

Kesultanan Marga Pasaribu

Dinasti ini didirikan oleh Raja Uti putra Tateabulan. Bila Dinasti Sorimangaraja berakhir di tanah Batak bagian selatan (Tapsel), maka Dinati Hatorusan ini berakhir di Barus, atau tanah Batak bagian barat.

Ibukotanya sendiri berada di kota-kota pesisir. Di antaranya Singkel, Fansul dan Barus. Raja Uti yang mendirikan kerajaannya di wilayah Limbong Sagala memerintahkan pemindahan kekuasaan ke wilayah fansur.

Sejarah regenerasi Raja Uti, mulai dari 1000 tahunan sebelum masehi sampai salah satu keturunanya yang bergelar Raja Uti VII di tahun 1500-an, tidak terdokumentasi dalam penanggalan yang jelas. Namun secara umum, dia memiliki beberapa keturunan, yang sempat diketahui namanya. Namun mungkin saja antara satu nama dengan nama yang lain berjarak puluhan sampai ratusan tahun. Karena kerajaan Hatorusan selalu hilang dan mucul kembali sesuai dengan percaturan politik.

1. Datu Pejel gelar Raja Uti II
2. Ratu Pejel III
3. Borsak Maruhum.
4. Raja Uti V bergelar Datu Alung Aji
5. Raja Uti VI yang bernama Longgam Parmunsaki.
6. Raja Uti VII bernama Datu Mambang Di Atas.

Selama pemerintahan Raja Uti VII, abad ke-16, pemerintahan kerajaan mulai goyah. Ekspansi kerajaan telah meluas sampai ke beberapa wilayah di Aceh. Raja Uti VII diceritakan memindahkan ibu kota kerajaan ke wilayahnya di bagian utara yang sekarang masuk kedalam pesisir Aceh.

Tidak diketahui secara pasti alasan pemindahan ibukota kerajaan. Namun diduga bahwa, telah ada sebuah gerakan oposisi yang bermaksud untuk mengkudeta Raja. Kekuatan pemberontak tersebut berasal dari pedalaman Batak. Kerajaan memang sudah mengalami kegoncangan setelah sebelumnya bebeberapa kerajaan kecil yang menjadi subordinat telah memilih memisahkan diri.

Sang Raja VII mempunyai beberapa panglima di antaranya seorang panglima yang sangat tangguh yang juga kebetulan adalah kemenakannya sendiri. Putra dari seorang saudari perempuannya, Boru Pasaribu. Dia bernama Mahkuta alias Mahkota yang dikenal di kalangan Batak dengan sebutan Manghuntal putra seorang datu bermarga Sinambela dari pusat Batak. Dia dididik di istana kerajaan dan menjadi Panglima yang menguasai matra Angkatan Darat dan Laut.

Ketika Portugis pertama sekali menyerang daerah tersebut, Panglima Mahkuta memimpin bala tentaranya dan memenangkan peperangan tersebut. Selain mendapat serangan dari pihak luar, kerajaan juga mendapat pemberontakan di dalam negeri.

Mahkuta kemudian diperintahkan untuk menumpas pemberontakan di sentral Batak tersebut. Dalam usahanya menumpas pemberontak, di ibukota kerajaan terjadi kudeta dan perebutan kekuasaan. Kerajaan terpecah dalam kerajaan-kerajaan kecil. Mahkuta alias Manghuntal mendirikan Dinasti Sinambela (Sisingamangaraja) di Bakkara.

Sementara itu, komunitas Pasaribu di Barus, para keturunanan Raja Uti, meneruskan hegemoni Dinasti Pasaribu dengan naiknya Sultan Ibrahimsyah Pasaribu menjadi Sultan di Barus Hilir. Ada pendapat sejarah yang mengatakan bahwa Sultan Ibrahimsyah Pasaribu adalah orang yang memberi kekuasaan kepada Manghuntal, Mahkuta, untuk mendirikan kerajaannya di Bakkara. Dengan demikian dialah yang bergelar Raja Uti VII tersebut (?).

Selain nama-nama di atas, berikut adalah nama-nama Dinasti Hatorusan berikutnya:

1. Sultan Ibrahimsyah Pasaribu (Gelar Raja Hatorusan). Wafat 1610 Masehi.
2. Sultan Yusuf Pasaribu
3. Sultan Adil Pasaribu
4. Tuanku Sultan Pasaribu
5. Sultan Raja Kecil Pasaribu
6. Sultan Emas Pasaribu
7. Sultan Kesyari Pasaribu
8. Sultan Main Alam Pasaribu
9. Sultan Perhimpunan Pasaribu
10. Sultan Marah Laut bin Sultan Main Alam Pasaribu pada tahun 1289 rabiul akhir atau pada tanggl 17 Juni 1872 menuliskan kembali Sejarah Tuanku Badan (Tambo Barus Hilir) yang menceritakan silsilah kerajaan Hatorusan di Barus, dari sebuah naskah tua peninggalan leluhurnya yang hampir lapuk.

Sumber : hatorusan.blogspot.com

Selasa, 15 Juni 2010

9 Nilai Budaya yg Utama pada Orang Batak Toba

(Gambar: Marbun blogspot.com)
"Saya mencoba untuk mendeskripsikan (secara Antropologis) mengenai 9 Nilai Budaya Yang Utama pada Masyarakat Batak Toba. Memang masih banyak Nilai Budaya Batak Toba yang lain, yang mana mungkin menjadi bahasan teman-teman yang lain ?

1. KEKERABATAN
Yang mencakup hubungan premordial suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur Dalihan Na Tolu( Hula-hula, Dongan Tubu, Boru), Pisang Raut (Anak Boru dari Anak Boru), Hatobangon (Cendikiawan) dan segala yang berkaitan hubungan kekerabatan karena pernikahan, solidaritas marga dan lain-lain.

2.RELIGI
Mencakup kehidupan keagamaan, baik agama tradisional maupun agama yang datang kemudian yang
mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya.

3.HAGABEON
Banyak keturunan dan panjang umur. satu ungkapan tradisional Batak yang terkenal yang disampaikan pada saat upacara pernikahan adalah ungkapan yang mengharapkan agar kelak pengantin baru dikaruniakan putra 17 dan putri 16. Sumber daya manusia bagi orang Batak sangat penting. Kekuatan yang tangguh hanya dapat dibangun dalam jumlah manusia yang banyak. Ini erat hubungannya dengan sejarah suku bangsa Batak yang ditakdirkan memiliki budaya bersaing yang sangat tinggi. Konsep Hagabeon berakar, dari budaya bersaing pada jaman purba, bahkan tercatat dalam sejarah perkembangan, terwujud dalam perang huta. Dalam perang tradisional ini kekuatan tertumpu pada jumlah
personil yang besar. Mengenai umur panjang dalam konsep hagabeon disebut SAUR MATUA BULUNG ( seperti daun, yang gugur setelah tua). Dapat dibayangkan betapa besar pertambahan jumlah tenaga manusia yang diharapkan oleh orang Batak, karena selain setiap keluarga diharapkan melahirkan putra-putri sebanyak 33 orang, juga semuanya diharapkan berusia lanjut.

4.HASANGAPON
Kemuliaan, kewibawaan, kharisma, suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan. Nilai ini memberi dorongan kuat, lebih-lebih pada orang Toba, pada jaman modern ini untuk meraih jabatan dan pangkat yang memberikan kemuliaan,kewibawaan, kharisma dan kekuasaan.

5. HAMORAON
Kaya raya, salah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak, khususnya orang Toba, untuk mencari harta benda yang banyak.

6.HAMAJUON
Kemajuan, yang diraih melalui merantau dan menuntut ilmu. Nilai budaya hamajuon ini sangat kuat mendorong orang Batak bermigrasi keseluruh pelosok tanah air. Pada abad yang lalu, Sumatra Timur dipandang sebagai daerah rantau. Tetapi sejalan dengan dinamika orang Batak, tujuan migrasinya telah semakin meluas ke seluruh pelosok tanah air untuk memelihara atau meningkatkan daya saingnya.

7. HUKUM
Patik dohot uhum, aturan dan hukum. Nilai patik dohot dan uhum merupakan nilai yang kuat di sosialisasikan oleh orang Batak. Budaya menegakkan kebenaran, berkecimpung dalam dunia hukum merupakan dunia orang Batak.
Nilai ini mungkin lahir dari tingginya frekuensi pelanggaran hak asasi dalam perjalanan hidup orang Batak sejak jaman purba. Sehingga mereka mahir dalam berbicara dan berjuang memperjuangkan hak-hak asasi. Ini tampil dalam permukaan kehidupan hukum di Indonesia yang mencatat nama orang Batak dalam daftar pendekar-pendekar hukum, baik sebagai Jaksa, Pembela maupun Hakim.

8. PENGAYOMAN
Dalam kehidupan sosio-kultural orang Batak kurang kuat dibandingkan dengan nilai-nilai yang disebutkan terdahulu. ini mungkin disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi. Kehadiran pengayom, pelindung, pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang sangat mendesak.

9. KONFLIK
Dalam kehidupan orang Batak Toba kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada pada Angkola-Mandailing. Ini dapat dipahami dari perbedaan mentalitas kedua sub suku Batak ini. Sumber konflik terutama ialah kehidupan kekerabatan dalam kehidupan Angkola-Mandailing. Sedang pada orang Toba lebih luas lagi karena menyangkut perjuangan meraih hasil nilai budaya lainnya. Antara lain Hamoraon yang mau tidak mau merupakan sumber konflik yang abadi bagi orang Toba.
( dikutip tanpa merubah dari skripsi penulis :
POLA DAN FUNGSI KEKERABATAN MASYARAKAT BATAK TOBA, Sebuah Studi Deskripsi Pada Perkumpulan Marga Napitupulu, Boru dan Bere di Kotamadya Surabaya.
ANTROPOLOGI - Universitas Airlangga, Surabaya. 1992
Sumber: habatakon01.blogspot.com/